Bikin Aplikasi Sendiri Pakai AI atau Bayar Software House? Hitungan Jujurnya
9 menit baca · Diperbarui 2026-08-05
Penawaran itu udah dua minggu ngendon di HP kamu. Anggap angkanya Rp 85 juta, empat bulan pengerjaan, tiga tahap pembayaran. Tiap malam kamu buka lagi, baca lagi, tutup lagi. Nggak ada jawaban yang muncul.
Di sisi lain ada kenalan yang bilang sekarang bisa bikin sendiri pakai AI. Katanya sebulan juga jadi. Kamu pengin percaya. Tapi kamu juga tahu orang yang ngomong begitu biasanya belum pernah ngurus toko sambil belajar hal baru barengan.
Panduan ini nggak bakal nyuruh kamu "sewa aja" atau "bikin sendiri aja". Dua-duanya salah kalau dipaksain ke semua orang. Yang kamu dapat di sini: angka yang bisa kamu cek sendiri lengkap sama tanggalnya, biaya yang biasanya nggak ditulis di dua sisi, dan daftar kondisi yang bisa kamu cocokin sama keadaanmu malam ini juga.
Jawaban pendeknya dulu
Sewa software house kalau aplikasimu megang uang orang, nyimpen data pribadi banyak orang, bentuknya udah pasti, dan kamu nggak punya waktu ngurusin. Bikin sendiri pakai AI kalau aplikasinya dipakai di lingkaranmu sendiri, bentuknya masih berubah-ubah, dan kesalahan paling parahnya cuma bikin kamu ngetik ulang.
Sisanya isi angka dan batas, biar kamu bisa nunjuk sendiri kamu ada di sebelah mana.
Angka software house hari ini, dan siapa yang nulisnya
Coba googling "biaya pembuatan aplikasi". Sepuluh hasil pertama hampir semuanya ditulis software house. Bukan berarti angkanya ngarang. Tapi mereka nulis sambil jualan, dan itu ngaruh ke cara angkanya disusun. Jadi aku kutip apa adanya lengkap sama tanggal terbitnya, biar kamu bisa buka sendiri dan lihat konteksnya.
Halaman Majapahit Teknologi bertanggal 27 Mei 2026 memecah pasarnya jadi tiga lapis: aplikasi UMKM dan solo founder Rp 5 sampai 50 juta dengan waktu 3 sampai 8 minggu, mid-market dan startup Rp 50 sampai 200 juta dengan 8 sampai 16 minggu, lalu enterprise Rp 200 juta sampai 2 miliar ke atas. Aku buka halaman itu 5 Agustus 2026.
Angka yang mirip muncul di tulisan Neokarya bertanggal 2 Maret 2026, cuma potongannya beda: aplikasi sederhana Rp 10 sampai 50 juta, menengah (yang udah ada login, booking, dashboard admin) Rp 50 sampai 150 juta, kompleks Rp 150 juta ke atas. Dicek di tanggal yang sama.
Yang lebih berguna buat kamu justru rincian per bagian. Jagel mecah harganya per fitur: integrasi pembayaran sendirian Rp 15 sampai 50 juta, autentikasi pengguna Rp 10 sampai 30 juta, aplikasi Android saja Rp 30 sampai 150 juta. Satu catatan penting, tulisan itu bertanggal 17 Oktober 2024, jadi umurnya udah lewat setahun waktu aku buka 5 Agustus 2026. Pakai buat ngerti strukturnya, jangan dipakai sebagai harga hari ini.
Kenapa dua penawaran buat aplikasi yang kelihatannya sama bisa beda tiga kali lipat? Biasanya bukan soal satu mahal satu murah. Yang satu ngitung dua orang selama enam minggu, yang satu ngitung lima orang selama enam belas minggu. Jadi pas minta penawaran, tanya jumlah orang dan jumlah mingguannya. Angka totalnya doang nggak ngasih tahu apa-apa.
Satu pos lagi yang sering kelewat: biaya setelah aplikasinya jadi. Halaman Majapahit yang tadi nulis perawatan bulanan Rp 3 sampai 15 juta tergantung skala, atau 15 sampai 25 persen dari biaya awal per tahun. Kalau kamu bayar Rp 85 juta di depan, siapin lagi belasan sampai dua puluhan juta setahun cuma biar aplikasinya tetap nyala dan nggak rusak pas HP pelanggan naik versi.
Bikin sendiri pakai AI juga ada tagihannya
Nah, bagian ini yang paling sering disembunyikan di sebelah sini. Orang bilang "gratis", padahal nggak. Ada dua pos: langganan alat dan waktu kamu. Yang kedua jauh lebih mahal, dan hampir nggak pernah dihitung siapa pun.
Langganannya gampang dicek sendiri. Claude Pro $20 per bulan, Cursor Pro $20 per bulan, hosting Vercel gratis di paket Hobby dan $20 per pengguna per bulan kalau naik ke Pro. Ketiganya aku buka 5 Agustus 2026. Kalau aplikasinya numpang di Google Spreadsheet, Google Apps Script sendiri nggak nambah tagihan di luar akun Google yang kamu udah punya.
Biar ada rasanya dalam rupiah: kurs jual Bank Indonesia tanggal 4 Agustus 2026 ada di Rp 18.080,96 per dolar. Berarti satu langganan $20 itu sekitar Rp 362 ribu sebulan, atau sekitar Rp 4,3 juta setahun. Dua alat sekaligus jadi sekitar Rp 8,7 juta setahun. Angka rupiahnya hitunganku dari kurs itu, jadi cek ulang pakai kurs hari kamu baca ini.
Sekarang pos yang mahal. Waktu kamu bukan gratis cuma karena nggak ada tagihannya. Cara ngitungnya sederhana: ambil laba bersih tokomu sebulan, bagi jumlah jam kamu kerja sebulan. Itu nilai kasar satu jam kamu. Terus kalikan sama jam yang bakal kepakai buat proyek ini.
Berapa jamnya? Aku nggak punya data terukur buat ini, jadi anggap yang berikut perkiraan kasar dan bukan angka pasti. Buat tool internal sederhana macam catatan stok atau rekap penjualan harian, siapin sekitar 20 sampai 60 jam yang kesebar dalam beberapa minggu, udah termasuk waktu kamu bingung, salah jalan, dan ngulang. Kalau bentuknya lebih rumit dari itu, angkanya naik, dan naiknya nggak pelan-pelan.
Satu lagi yang jarang disebut di sisi sini: setelah aplikasinya jadi, kamu yang jadi tukang servisnya. Ada yang error jam sembilan malam, ya kamu yang benerin. Software house punya biaya perawatan bulanan yang angkanya tadi kelihatan; kamu punya versi yang nggak ada tagihannya tapi tetap makan malam-malam kamu.
HITUNGAN BIKIN SENDIRI (isi pakai angka kamu)
1. Langganan alat
Rp ______ /bln x ____ bln = Rp ________
2. Nilai satu jam kamu
Laba bersih sebulan = Rp ________
Jam kerja kamu sebulan = ____ jam
Nilai 1 jam = Rp ________
3. Perkiraan jam yang kepakai = ____ jam
4. Biaya waktu (2 x 3) = Rp ________
TOTAL BIKIN SENDIRI (1 + 4) = Rp ________
LAWANNYA:
Penawaran software house = Rp ________
Perawatan setahun = Rp ________
TOTAL SEWA TAHUN PERTAMA = Rp ________Jalanin hitungan ini sekali aja dengan jujur, dan biasanya jawabannya langsung nongol. Kalau total bikin sendiri kamu udah nyentuh separuh penawaran software house padahal aplikasinya termasuk ribet, sewa jadi masuk akal. Kalau totalnya cuma sepersepuluh, ya udah jelas, nggak usah dipikir semalaman lagi.
Belum kebayang proses bikinnya kayak apa? Alurnya dari nol ada di cara membuat aplikasi dengan AI tanpa coding, dan gambaran perjalanannya sampai jadi ada di dari ide ke aplikasi jadi dengan AI.
Kapan kamu jangan sewa software house
Ini bagian yang nggak bakal kamu temuin di halaman software house mana pun, karena ya, mereka yang jualan. Ada kondisi yang kalau kamu tetap sewa, uangmu kebakar buat hal yang salah. Cocokin sama keadaan kamu:
- Kamu belum bisa nyebutin satu pun nama orang yang bakal pakai aplikasinya minggu depan. Kalau penggunanya masih di angan-angan, kamu bukan beli aplikasi, kamu beli tebakan yang mahal.
- Bentuk aplikasinya masih berubah tiap minggu di kepala kamu. Software house ngitung harga dari lingkup yang beku. Kamu bakal bayar tambahan tiap kali berubah pikiran, dan kamu bakal sering berubah pikiran.
- Yang kamu butuhin cuma tool internal buat kamu dan beberapa karyawan: catatan stok, rekap harian, jadwal shift, absensi. Salah dikit tinggal betulin, nggak ada yang rugi.
- Datanya udah rapi di Google Spreadsheet dan sebenarnya kamu cuma butuh tampilan yang enak dibuka dari HP.
- Kamu belum pernah nulis satu paragraf pun soal apa yang kamu mau. Datang cuma bawa cerita lisan artinya kamu bayar mereka buat nebak-nebak maksudmu.
Yang terakhir itu paling sering kejadian. Kamu ketemu, cerita 45 menit, mereka bikin proposal, tiga bulan kemudian yang jadi bukan yang kamu bayangin. Bukan sepenuhnya salah mereka. Cerita 45 menit itu lupa separuhnya begitu orangnya keluar ruangan.
Lihat contoh PRD yang sudah jadi →Kapan kamu jangan nekat bikin sendiri
Sekarang arah sebaliknya, dan yang ini serius. Ada kondisi yang kalau kamu paksain sendiri, yang hilang bukan waktu, tapi uang beneran dan nama baik yang susah dibalikin.
- Aplikasinya nampung uang orang lain. Pembayaran, saldo, top up, apa pun bentuknya. Satu kesalahan di sini bukan bikin kamu ngetik ulang, tapi bikin duit orang nyangkut.
- Kamu nyimpen data pribadi banyak orang: KTP, alamat lengkap, nomor rekening, data kesehatan. Bocor sekali, urusannya bisa nyampe ranah hukum.
- Ada tanggal mati yang nggak bisa digeser, misalnya tender atau musim ramai yang tanggalnya udah kelihatan dari jauh. Belajar sambil ngerjain nggak cocok sama tenggat.
- Bidangnya diatur regulasi, misalnya keuangan atau kesehatan. Aturannya nggak bisa kamu tebak sendiri, dan AI bukan penasihat hukum kamu.
- Kamu beneran nggak punya waktu. Bukan "agak sibuk", tapi tokomu bakal jalan lebih buruk kalau perhatianmu kebagi. Ini alasan yang sah dan nggak usah kamu malu-maluin.
Versi lebih panjang soal batasan ini, khusus buat pemilik usaha, ada di pemilik usaha bikin aplikasi sendiri dengan AI. Kalau tujuanmu nguji ide produk baru dan bukan beresin operasional toko yang udah jalan, bikin MVP tanpa developer lebih pas buat kamu.
Jalan tengah yang jarang ditawarin
Kebanyakan orang mikir ini pilihan dua tombol. Padahal ada jalan ketiga yang sering lebih masuk akal daripada dua-duanya: kamu bikin versi kecilnya sendiri dulu, baru bawa itu ke software house.
Bedanya besar. Kamu datang bukan bawa cerita, tapi bawa sesuatu yang bisa diklik, plus dokumen yang nyebutin persis apa yang harus ada dan apa yang sengaja nggak ada. Lingkupnya jadi jelas. Diskusinya berubah dari "kira-kira maunya gimana ya" jadi "berapa buat yang ini".
Aku nggak bakal janji harganya turun sekian persen. Itu tergantung banyak hal dan aku nggak punya datanya. Yang bisa aku bilang: penawaran buat lingkup yang kabur hampir selalu dikasih bantalan risiko sama vendor, dan bantalan itu kamu yang bayar.
Versi kecil ini juga ngasih sesuatu yang lebih berharga daripada hemat uang: kamu jadi tahu aplikasi yang kamu mau itu beneran kepakai atau enggak. Sering banget orang baru sadar fitur yang dia kira paling penting ternyata nggak pernah disentuh. Lebih enak sadarnya sebelum bayar puluhan juta daripada sesudah.
Lima hal yang harus dijawab sebelum kamu tanda tangan
Kalau hitunganmu mengarah ke sewa, bagus. Tapi jangan tanda tangan sebelum lima hal ini dijawab tertulis, bukan lisan sambil ngobrol di WhatsApp.
[ ] Lingkupnya apa persis? Minta daftar fitur tertulis,
plus daftar yang TIDAK termasuk.
[ ] Kalau aku minta ubah di tengah jalan, hitungannya
gimana? Per jam? Per fitur? Ada batas gratis?
[ ] Setelah serah terima, siapa yang pegang kode dan
akun hosting-nya? Aku atau kalian?
[ ] Perawatan setahun berapa, dan yang termasuk apa aja?
[ ] Kalau di tengah jalan proyeknya berhenti, aku dapat
apa dari yang udah aku bayar?Nomor tiga yang paling sering bikin nyesel belakangan. Ada yang bayar puluhan juta lalu sadar dia nggak megang apa-apa, dan tiap mau ubah satu kalimat di halaman depan harus balik lagi ke vendor yang sama, bayar lagi. Tanya di depan, sebelum uangnya pindah.
Daftar "yang TIDAK termasuk" di nomor satu juga bukan formalitas. Itu yang nyelamatin kamu dari salah paham mahal di bulan ketiga. Kalau vendornya keberatan nulis itu, anggap itu jawaban.
Jadi kamu di sebelah mana
Buka lagi penawaran yang ngendon di HP kamu itu. Lihat angkanya, terus jawab satu pertanyaan: kalau aplikasi ini salah, yang rusak apa? Kalau jawabannya "aku ngetik ulang", kamu kemahalan. Kalau jawabannya "duit pelanggan nyangkut", jangan coba-coba sendiri, sehemat apa pun kelihatannya.
Buat yang di tengah-tengah, dan jujur aja kebanyakan orang ada di situ, urutannya begini: bikin versi kecilnya sendiri, pakai dua minggu, baru putuskan. Dua minggu itu ngasih kejelasan yang nggak bakal kamu dapat dari mikir sebulan sambil bolak-balik buka penawaran. Satu peringatan sebelum mulai: kegagalan bikin sendiri biasanya bukan gara-gara AI-nya bodoh, tapi gara-gara polanya salah dari jam pertama, dan kesalahan non-programmer waktu bikin aplikasi pakai AI ngelistin polanya satu-satu.
Langkah pertamanya murah banget: tulis apa yang kamu mau dalam satu halaman, pakai bahasa kamu sendiri. Halaman itu berguna ke dua arah. Kalau kamu jadi bikin sendiri, itu yang kamu kasih ke AI. Kalau kamu jadi sewa, itu yang kamu kasih ke vendor, dan penawaran yang balik ke kamu bakal jauh lebih masuk akal daripada yang sekarang ngendon di HP.
Buat PRD pertamamu gratis di Skematik →