Lewati ke konten
Skematik

Cara Membuat PRD Landing Page & Company Profile: Apa yang Tetap Perlu Ditulis

6 menit baca · Diperbarui 2026-07-27

Landing page kelihatan kayak proyek paling gampang buat AI coding agent. Satu halaman, nggak ada database, nggak ada login, tinggal ketik "bikinin landing page buat jasa servis AC saya" terus tunggu. Yang keluar sering dua macam: halaman generik dengan headline "Solusi Terbaik untuk Kebutuhan Anda" yang bisa ditempel ke bisnis apa saja, atau sebaliknya agent malah bikinin form kontak yang nyambung ke "database" yang nggak pernah kamu minta.

Landing page dan company profile memang beda dari kategori lain di Skematik. Nggak butuh skema data, nggak butuh API, nggak ada backend rumit. Tapi itu bukan alasan buat skip PRD sama sekali. Justru karena nggak ada database yang otomatis mengunci bentuk aplikasinya, pekerjaan PRD pindah ke tempat lain: struktur halaman, isi tiap bagian, dan ke mana pengunjung diarahkan.

Kenapa PRD-nya beda dari aplikasi berbackend

Kalau kamu bikin PRD aplikasi kasir atau dashboard, sebagian besar usaha ada di skema data dan aturan bisnis: apa yang tersimpan, apa yang berubah kalau kondisi tertentu terjadi. Landing page nggak punya itu. Kontennya statis, jadi usahanya pindah ke copywriting dan urutan penyampaian pesan. Kalau kamu nulis PRD landing page persis kayak PRD aplikasi, dengan format "sebagai user saya bisa", hasilnya bakal janggal karena nggak ada user story yang benar-benar cocok buat halaman statis.

Tiga hal yang wajib ditulis rapi

Lepas dari skema data, ada tiga hal yang justru jadi tulang punggung PRD landing page. Kalau tiga ini ditulis jelas, agent nggak perlu nebak-nebak isi halamannya kayak apa.

1. Struktur section, urutan dari atas ke bawah

Tulis section apa aja yang ada, urut dari paling atas. Bukan cuma daftar nama section, tapi juga fungsi tiap bagian dalam alur baca pengunjung.

  • Hero: headline utama, satu kalimat penjelas, dan CTA pertama
  • Masalah atau manfaat: kenapa pengunjung harus peduli, dalam bahasa mereka, bukan bahasa kamu
  • Fitur atau cara kerja: apa yang didapat pengunjung, biasanya tiga sampai empat poin
  • Bukti sosial: testimoni, jumlah pelanggan, atau logo klien kalau ada
  • Harga atau paket, kalau memang ditampilkan di halaman ini
  • FAQ: pertanyaan yang biasa bikin orang ragu sebelum kontak
  • CTA penutup: ajakan terakhir sebelum footer

Urutan ini bukan aturan baku, tapi PRD-mu harus eksplisit soal urutannya. Kalau kamu cuma nulis "landing page buat jasa servis AC", agent bakal mengarang urutan sendiri, dan itu yang bikin hasilnya kadang loncat-loncat: FAQ muncul sebelum penjelasan fitur, atau CTA cuma ada satu di paling bawah.

2. Pesan inti tiap section, bukan cuma judulnya

Nama section doang nggak cukup. Kalau kamu cuma nulis "Hero: judul, subjudul, tombol", agent ngisi sendiri dan hasilnya gampang ditebak: kalimat umum yang bisa dipasang di bisnis apa saja. Tulis pesan yang mau disampaikan, bukan cuma slotnya.

Contoh buat jasa servis AC panggilan: section Hero pesannya bukan "AC bermasalah? Kami solusinya", tapi lebih spesifik, misalnya "teknisi datang hari yang sama, bayar setelah AC dingin lagi". Beda jauh hasilnya kalau agent tahu yang mau ditonjolkan itu kecepatan respons dan jaminan hasil, bukan sekadar klaim "jasa servis AC terpercaya".

3. CTA, di titik mana aja munculnya

CTA bukan cuma satu tombol besar di hero. Landing page yang bekerja biasanya naruh ajakan di beberapa titik: sesudah hero, sesudah bagian fitur, dan di penutup. Sebutkan di PRD section mana aja yang punya CTA, tombolnya ngomong apa (bukan cuma "Klik di sini"), dan tujuannya ke mana, entah itu WhatsApp, form, telepon langsung, atau halaman lain.

Kalau ada form kontak, itu satu-satunya bagian yang butuh backend

Form kontak atau form daftar newsletter adalah pengecualian dari "landing page nggak butuh backend". Begitu ada form, PRD wajib jelasin tiga hal: data terkirim ke mana (email, Google Sheet, atau tabel sederhana), validasi apa yang wajib (field mana yang harus diisi, format nomor atau email), dan apa yang terjadi setelah submit (pesan sukses di layar, redirect, atau notifikasi masuk ke kamu). Tanpa ini ditulis eksplisit, yang paling sering ditebak agent adalah form yang kelihatan jalan di layar tapi datanya nggak benar-benar terkirim ke mana pun.

SEO dasar yang layak masuk PRD

Landing page biasanya jadi pintu masuk dari pencarian Google atau iklan, jadi sedikit SEO dasar layak ditulis di PRD walau halamannya statis.

  • Judul halaman, alias title tag: bukan cuma nama bisnis, tapi juga kata kunci yang orang cari
  • Meta description: satu-dua kalimat yang muncul di hasil pencarian, ini yang bikin orang klik atau lewat
  • Section mana yang jadi H1: biasanya headline di Hero, bukan logo atau gambar besar yang tampak seperti judul tapi secara teknis bukan

Tiga poin ini kecil, tapi kalau nggak disebutkan, sering ketinggalan sampai halaman sudah live dan baru ketahuan belakangan.

PRD landing page yang lengkap nggak perlu tebal. Section-nya jelas, pesan tiap bagian nggak generik, titik CTA-nya kelihatan, dan kalau ada form, jalurnya nggak nebak-nebak. Segitu udah cukup buat agent-mu langsung bikin halaman yang isinya masuk akal dari section pertama.

Buat PRD landing page gratis di Skematik →Lihat contoh PRD landing page & company profile →
Cara Membuat PRD Landing Page & Company Profile: Apa yang Tetap Perlu Ditulis — Skematik